Karena Tidak Patuh Kepada Ibu

 Induk Tikus amat mengasihi anak semata wayangnya. Ia berusaha semampu mungkin melindungi anaknya dari segala marabahaya. Induk Tikus menyadari anaknya amat lemah, juga berbahaya bila keluar dari tempat tinggalnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan anaknya untuk tidak sekali-kali keluar dari dalam lubang. Mulanya, nasihat Induk Tikus itu dipatuhi oleh si Anak Tikus. Namun suatu saat, Anak Tikus justru merasa penasaran. Ia ingin tahu seperti apa yang ada diluar lubang rumahnya. 

Makin lama, rasa penasaran si Anak Tikus makin membesar. Akhirnya, makin menjadi-jadi dan tak mampu dihadangnya. Ketika Ibunya telah lama pergi, si Anak Tikus mengendap-endap keluar dari dalam lubang. Begitu tubuhnya berada diluar lubang, bukan main tercengangnya ia. Ternyata, dunia di luar sana amat mempesona. Pemandangan alam yang begitu indah dan menawan, udara yang berhembus begitu segar. Cahaya matahari terasa begitu menghangatkan tubuh, Anak Tikus suka cita menikmati dunia barunya.

Si Anak Tikus merasa penasaran untuk mengetahui seperti apa bentuk manusia. Selain itu, juga rumah manusia seperti yang pernah diceritakan oleh Ibunya. Anak Tikus lagi-lagi tak kuasa membendung rasa penasarannya itu. Dengan berjalan hati-hati ia meninggalkan mulut lubang. Ia terus berjalan tak tentu arah, tujuannya hanya satu yakni melihat manusia dan rumah manusia. 

Di sebuah tempat, Anak Tikus berhenti. Beberapa saat matanya menatapi bangunan besar yang berdiri di hadapannya. Anak Tikus menduga, bangunan itu tak lain adalah rumah manusia. Anak Tikus makin bersemangat, hasratnya untuk melihat rumah manusia kini menjadi kenyataan. Tinggal satu harapannya lagi, mampukah dirinya melihat wujud manusia? 

Anak Tikus berjalan menuju ke rumah manusia. Matanya jelalatan mencari kalau-kalau ada lubang yang membimbingnya masuk ke dalam rumah itu. Begitu terlihat, si Anak Tikus langsung masuk ke dalam rumah itu. Anak Tikus makin terpesona. Ternyata, pemandangan di dalam rumah manusia jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan pemandangan di sekitar mulut lubang tempat tinggalnya. Anak Tikus ini sangat teliti mengamati semua benda yang ada di sana. 

Mata Anak Tikus tiba-tiba terhenti pada sebuah rumah kecil mirip kandang. Rumah itu seluruhnya terbuat dari kawat yang bentuknya kotak. Anak Tikus menarik napas, terpikat oleh bangunan unik itu. Mata Anak Tikus lama terbenam pada daging kecil yang tergantung di atap rumah kawat itu. Ia yakin, daging itu adalah daging hewan yang rasanya sangat lezat. Anak Tikus mendekati rumah kawat itu. Seraya demikian, indera penciumannya ia pasang kuat-kuat. Benar sekali, hidung Anak Tikus menangkap kalau aroma daging itu amat memikat, si Anak Tikus sangat tergoda untuk segera meraih daging itu. 

Tanpa berpikir panjang, Anak Tikus merayap mendekati pintu masuk rumah kawat. Tak lama kemudian, ia telah berada di dalamny. Tanpa berpikir dua kali, Anak Tikus melompat untuk meraih daging. Akhirnya berhasil, kaki depannya menggenggam daging itu. Daging terjatuh, namun tetap dalam kepalan tangan si Anak Tikus. Anak Tikus mendarat di lantai rumah kawat dengan kukuh, tatapan matanya bersinar-sinar. 

Namun, ketika ia lihat pintu rumah kawat itu tertutup dengan keras, Anak Tikus merasa ciut. Daging di genggamannya seketika lepas begitu saja. Secepat kilat ia menghambur ke pintu rumah kawat. Anak Tikus mencoba membukanya, namun sia-sia. Anak Tikus membenturkan-benturkan kepalanya untuk membuka pintu rumah kawat itu, namun sia-sia saja. Anak Tikus terus berusaha untuk keluar dari rumah kawat itu, namun segala usahanya tetap saja sia-sia. 

Akhirnya, si Anak Tikus teringat akan cerita Ibunya, rumah kawat itu pastilah perangkap yang dibuat oleh manusia. Tikus yang sudah masuk ke dalamnya hampir mustahil bisa selamat. Ia tinggal menunggu kematian saja. Si Anak Tikus merasa menyesali dirinya, kenapa ia tidak patuh kepada Ibunya, kenapa ia melanggar nasihatnya. Anak Tikus pun menangis tersedu-sedu dan makin menjadi-jadi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

History Of Islam Nusantara

The House